Momen peletakan batu pertama (groundbreaking) Program Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Jumat (6/2/2026), bukan sekadar seremoni. Di balik acara itu, tersimpan kisah panjang penuh tekanan, lobi, dan perjuangan yang akhirnya mengantarkan Kabupaten Sumbawa menjadi bagian dari proyek strategis nasional.
Di hadapan jajaran pejabat pusat dan daerah—mulai dari Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi NTB, DPR RI, DPRD, hingga unsur Forkopimda—Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, mengungkap cerita yang jarang diketahui publik: proyek ini nyaris gagal total.
Menurutnya, sejak awal diusulkan pada Juli tahun sebelumnya, proyek tersebut justru sempat beberapa kali terlempar dari daftar prioritas nasional. Bahkan, kondisinya sempat mencapai titik kritis.
“Posisinya waktu itu sudah 90 persen hampir gagal. Situasinya sangat menekan, kami benar-benar diliputi rasa resah dan gelisah,” ungkapnya.
Tidak tinggal diam, berbagai upaya dilakukan. Pemerintah daerah harus membangun komunikasi intensif dengan berbagai pihak di tingkat pusat—mulai dari anggota DPR RI, tokoh nasional, hingga kementerian terkait—agar proyek tersebut bisa kembali diperhitungkan.
Titik balik terjadi saat Bupati mendampingi Gubernur NTB dalam sebuah agenda bersama Presiden. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk menjelaskan secara langsung konsep dan kesiapan daerah. Hasilnya, respon positif langsung datang dari kementerian terkait.
“Di tempat itu juga, Menteri langsung memerintahkan agar NTB disiapkan. Setelah itu, rasanya seperti beban berat lepas. Perjuangan berbulan-bulan akhirnya terbayar,” tuturnya.
Bukan hanya proyek ini, Bupati juga menyebut sejumlah proyek pendukung lain, seperti pembangunan jalan kawasan industri di wilayah selatan, mengalami dinamika serupa—keluar masuk daftar nasional hingga akhirnya bisa masuk tahap tender.
Keberhasilan ini, lanjutnya, tidak lepas dari dukungan banyak pihak, termasuk tokoh-tokoh NTB yang berada di tingkat pusat serta jajaran BUMN sektor pangan yang turut mendorong percepatan realisasi.
Dari ratusan daerah di Indonesia, NTB berhasil menembus enam besar nasional untuk gelombang pertama pengembangan industri unggas terintegrasi. Lebih membanggakan lagi, Sumbawa dipilih sebagai lokasi awal pelaksanaan.
“Ini bukan pencapaian biasa. Ini kebanggaan besar bagi NTB dan Sumbawa karena kita masuk gelombang pertama nasional,” tegasnya.
Dari sisi ekonomi, proyek ini diproyeksikan membawa dampak besar. Investasi sekitar Rp20 triliun akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur industri, sementara sekitar Rp50 triliun lainnya akan mengalir untuk penguatan sektor UMKM, koperasi, kelompok peternak, hingga pelaku usaha lokal yang terlibat dalam rantai pasok.
Ke depan, kawasan ini akan dilengkapi fasilitas lengkap mulai dari pabrik pakan, pembibitan (DOC), laboratorium pengujian, hingga sistem distribusi pasar di dalam NTB. Hal ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan peternak terhadap pasokan dari luar daerah, khususnya Pulau Jawa.
Lebih jauh, industri ini juga akan menjadi salah satu penopang utama program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan memastikan ketersediaan protein hewani yang stabil dan berkelanjutan.
Namun di tengah optimisme tersebut, Bupati mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas daerah. Ia menegaskan, masuknya investasi besar harus diiringi dengan suasana yang kondusif agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Ia bahkan membandingkan kondisi awal tahun 2025, ketika penerbangan ke Sumbawa sering dibatalkan karena minim penumpang. Kini, frekuensi penerbangan meningkat hingga tiga kali sehari—salah satunya dipicu oleh geliat investasi yang mulai tumbuh.
“Kalau tidak kita jaga bersama, investasi yang ada bisa pergi. Apalagi yang baru, bisa berpikir ulang untuk masuk,” pesannya.
Menutup sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam perjuangan panjang ini. Groundbreaking di Desa Serading menjadi penanda bahwa langkah besar pembangunan industri unggas terintegrasi di NTB, khususnya Sumbawa, akhirnya benar-benar dimulai.